Kamis, 07 April 2011

PERDARAHAN GASTROSINTESTINAL

Pendahuluan
Pada awalnya memang dirasa tidak terlalu membahayakan jika adanya peradangan di usus atau lambung, tapi lama kelamaan bila tidak cepat ditangani akan mengakibatkan infeksi yang berkepanjangan sehingga menyebabkan aliran darah yang harusnya masuk ke sistem saluran cerna akan terhambat oleh karena adanya infeksi menjadikan aliran darah tidak terserap dengan baik sehingga menyebabkan terpecahnya aliran darah tersebut sehingga terjadi perdarahan di gastrosintestinal.
Perdarahan Gastrosintestinal bagian atas adalah keadaan emergency yang sering ditemukan. Hal ini terdapat insiden di United Kingdom antara 50 - 100 / 100.000 dengan angka kematian sekitar 3500 orang; Di Oxford 50 / 100.000 populasi karena perdarahan kronik peptic ulcus ; Di Scotland 110 / 100.000 populasi karena duodenal ulcus. Pada umumnya di Eropa disebabkan oleh Portal Hipertensi karena Cirosis Hepatis akibat alkohol. 

Etiologi 
Sering ditemukan :
  • Oesophagus / tenggorokan  : Oesophagitis / ulkus oesophagus ; Varices oesophagus ; Mallory - Weise Syndrome ( oesophagus robek kerena muntah - muntah ).
  • Stomach / gaster / lambung : Gastritis / gastritis erosif ; Ulcus  ; Tumor.
  • Duodenum / usus : Ulcus dan Duodenitis.
Jarang ditemukan :
  • Arteri malformasi dari mucosa saluran pencernaan : Hemangiema
  • Tumor Pankreas : Pancreatitis kronis ; pseudocyst pancreas.
  • Haemobilia : Gangguan liver / hati ( cirosis )
  • Haemorhagic telangiectasis
  • Gangguan haemostasis
  • Diverticed duodenum
Gejala Klinis:
  1. Hematemesis ( muntah darah ) dan Melena ( BAB hitam )
  2. Syncope bila perdarahan banyak 
  3. Gejala Cirosis Hepatis seperti : selalu terasa penuh di perut, tidak nafsu makan, mual, kadang disertai muntah, perut tampak membesar dari normal dan teraba masa pada perut kanan atas. 
Patofisiologi
Kita ambil satu contoh penyebab yang ada yaitu Sirosis Hepatis Kronis menyebabkan terjadi kematian sel dalam hati, sehingga terjadinya peningkatan tekanan vena portal, maka terbentuk saluran kolateral di submukosa, oleh karena vena portal semakin tinggi menyebabkan vena oesophagus mengembang dan menipis kemudian pecah terjadilah perdarahan yang menyebabkan volume darah menurun, sehingga aliran darah balik jantung ikut menurun dan perfusi jaringan juga menurun. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya Syok dan bila tidak segera di tangani dapat menyebabkan kematian.

Selasa, 29 Maret 2011

Dasar Kegawat Daruratan

Tahapan Kegawat Daruratan

Berikut adalah salah satu penanganan kegawat daruratan pertama kali yang harus kita lakukan bila ada ketidak sadaran seseorang karena kecelakaan, tenggelam dan lainnya.
  • A : Air Way , kajilah jalan napas apakah ada sumbatan jalan napas akibat lidah jatuh kebelakang dapat diambil ddengan tangan langsung,bila ada sekret atau lendir,dapat dilakukan suction atau hisap lendir. Bisa di dengar suara napas.

  • Breathing : Pernapasan, dapat dilihat apakah ada gerakan naik / turunnya dinding dada atau tidak. Jika tidak ada gerakan napas sudah berarti terjadi henti napas, maka lakukan pemberian napas buatan, bisa dengan cara : Manual : mouth to mouth atau mouth to nouse; Bagging selama 24 jam x / menit sesuai masuknya napas pasien

  • Compression : Tekanan dapat dilakukan bila terjadi cardiac arress, yaitu dengan melakukan : 15 x kompresi dan 2x bagging. Compresi dilakukan selama 3 menit dengan melakukan CPR / RJP ( Resusitasi Jantung Paru ): 
Siklus I : Menit pertama 15 x CPR sebanyak 100x compresi, bila nadi carotis tidak teraba; Menit ke kedua 15 x CPR sebanyak 100x compresi, bila nadi carotis tidak teraba lagi lakukan sampai menit ke tiga pada siklus pertama dengan 15 x compresi sebanyak 100 x compresi. Bila nadi carotis tetap tidak teraba berikan adrenalin 2 ampul, lalu ulangi siklus II seperti Siklus I dengan setiap siklusnya di berikan adrenalin 2 ampul, hal ini dapat dilakukan sampai dengan 4 siklus sampai dengan nadi carotis teraba. Bila nadi carotis haya teaba sedikit berikan SA (Sulfat Atrofin) sebanyak 0,25 - 2 mg atau 1 - 8 ampul.
CPR atau RJP ( Resusitasi Jantung Paru ) dilakukan sampai nadi 60 - 100 x / mnt dengan melakukan compresi sebanyak 100x/mnt.